Mengenal Alat Defibrillator Dan Cara Kerjanya

Cara kerja Defibrillator yaitu dengan memberikan kejutkan (sengatan) listrik pada jantung dengan kondisi fibrasi yang tidak normal. Hal ini bisa terjadi paling banyak karena serangan jantung. Mau tau lebih lanjut tentang perangkat sengatan jantung (defibrillator) ini ? Silahkan simak artikel berikut ini.

Serangan jantung bisa terjadi kapan saja. Ketika seseorang pingsan karena serangan jantung, jantung mereka bergetar seperti “Limbo” yang biasa disebut dengan fibrasi. Dalam istilah kesehatan disebut dengan “fibrillasi Ventrikel”. Yaitu jantung bergetar sangat cepat (abnormal) hingga tidak dapat menjalankan fungsinya untuk memompa darah.

Kondisi seperti ini harus segera diatasi, karena dapat berdampak buruk. Pertolongan pertama pada kondisi tersebut biasanya dilakukan resusitasi jantung paru (CPR) atau menggunakan alat kejut jantung yang disebut Defibrillator. Itulah pekerjaan piranti Elektromedik yang dapat menyelamatkan nyawa manusia. Namun penggunaan alat ini harus orang terlatih.

cara kerja defibrillator AED

Meskipun demikian, sekarang sudah tersedia alat Defibrillator portable yang disediakan di berbagai tempat – tempat umum. Piranti kecil ini disebut degnan AED (Automated External Defibrillator). Bagaimana cara kerja Defibrillator otomatis ini ? Mari kita kuak lebih dalam bagaimana alat ini bekerja menyelamatkan manusia.

Tubuh kita memiliki banyak otot yang membuat kita menjadi kuat. Namun taukah anda, ada satu otot yang memiliki peran penting untuk anda bertahan hidup ? Yaitu otot jantung yang bekerja memompa darah ke seluruh tubuh. Jika jantung anda berhenti berdetak atau bekerja tidak normal, darah akan berhenti mengalir, setelah itu otak akan kekurangan supply oksigen. Hal ini bisa menyebabkan kematian dalam lima menit.

Oleh karena itu, seperti yang sudah sedikit disinggung diatas. Defibrillator bekerja dengan cara mengejutkan jantung menggunakan sengatan listrik dalam ukuran kira – kira 200 hingga 1000 Volt. Dalam hal ini jantung akan menerima energi sekitar 300 joule atau setara dengan 100 watt lampu pijar yang digunakan dalam tiga detik.

Mungkin anda pernah melihat di televisi bagaimana pertolongan defibrillator diberikan pada orang yang terkena serangan jantung atau “henti jantung”. Defibrillator terdiri dari dua buah elektroda yang berbentuk menyerupai setrika. Elektroda dilapisi dengan isolator agar orang yang memberikan jejutan tidak terkena “shock listrik”

Penempatan kedua elektroda tersebut juga tidak sembarangan. Ada beberapa metode yang digunakan dalam hal ini. Umumnya, satu elektroda diletakkan di bagian atas sedangkan elektroda yang lain diletakkan di bagian bawah sisi jntung. Untuk lebih jelasnya anda bisa lihat gambar berikut ini :

cara kerja defibrillator AED

Sekilas tadi kita sudah mengenal bagaimana cara kerja defibrillator dalam menyelamatkan seseorang yang terkena gangguan serangan jantung. Sekarang ada dua jenis defibrillator. Sebelumnya juga sudah saya sebutkan dimuka. Ada jenis defibrillator portable yang disebut dengan AED (Automated External Defibrillator).

Perangkat ini dilengkapi dengan sistem mikro komputer yang bekerja menganalisa irama jantung serara otomatis dan akan memberikan kejutan dengan energi yang diperlukan. Defibrillator Portable ini menganalisa irama jantung dari Pad (Elektroda Pad) yang ditempelkan ke dada pasien.

Setelah prosesor dalam AED menganalisa dan menentukan berapa energi yang harus diberikan. Arus listrik dikirim ke jantung melalui elektroda pad yang menempel pada dada pasien disekitar jantung. Kejutan listrik yang ditimbulkan tersebut akan mengganggu detak jantung yang bergetar tidak normal dan hal ini menjadikan kemungkinan kerja jantung kembali normal.

Sekarang ini kalau anda lihat, ada banyak piranti AED yang disediakan di tempat – tempat unum seperti di swalayan, Stadion, Air Port, Stasiun dan tempat – tempat lain yang banyak dikunjungi orang. Hal ini memungkinkan pertolongan dapat dilakukan secepatnya oleh petugas terdekat area tersebut.

AED (Automated External Defibrillator) dilengkapi dengan perintah suara yang akan menuntun (menginstruksi) penggunanya dalam melakukan pertolongan defibrillasi pada korban yang terkena serangan jantung. Inilah kelebihan AED dibanding Defibrillator manual. Pengguna tidak perlu menentukan berapa energi yang akan diberikan untuk defibrillasi karena sudah teranalisa secara otomatis.

Nah, itulah sedikit penjelasan mengenai alat defibrillator, khususnya cara kerja ataupun prinsip kerjanya. Mungkin diantara anda ada yang penasaran tentang harganya. Berapa harga Defibrillator di Indonesia ? Untuk harga pastinya saya sendiri tidak dapat memberikan informasi, namun untuk kisaran harga AED di Indonesia mulai dari 20 jutaan hingga 50 jutaan. Untuk defibrillator manual hingga ratusan juta. Sekian, semoga bermanfaat !

Leave a Reply